53 views

Home / Ekobis

Kamis, 19 Agustus 2021 - 18:53 WIB

Tak Peduli Pandemi Covid-19, Pengrajin Anyaman Limbah Bekas Tali Plastik di Kota Probolinggo Jalan Terus

Foto : Pengrajin Limbah Bekas Plastik, Saat Menekuni Profesinya

Foto : Pengrajin Limbah Bekas Plastik, Saat Menekuni Profesinya

PROBOLINGGO JATIM, Tribunpost.com — Masa pandemi Covid-19 yang melanda negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sangat dirasa berdampak pada bidang ekonomi. Sejumlah sektor usaha terpaksa mengurangi produksi, hingga banyak pula yang terpaksa gulung tikar dan membanting setir mencari usaha lain.

Dampak pandemi ini juga sempat menghempas usaha para pengperajin anyaman limbah tali plastik di Kota Probolinggo. Meski sempat terseok-seok hingga nyaris tidak beroperasi lagi, kini mereka perlahan mulai bangkit kembali menyongsong era kenormalan baru.

Salah satu perajin anyaman limbah tali plastik asal Kelurahan Kademangan Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Sutanto (60), mengutarakan perjalanannya mempertahankan usaha yang sudah dirintisnya selama puluhan tahun ini, dirasa sangat berat ketika dihantaman Pandemi Covid-19.

Disini setiap hari memproduksi anyaman berbahan limbah tali plastik, seperti tempat kranjang sampah, tempat tisu, keranjang, tudung saji, kotak aksesoris ,gazebo dan lain-lain.Kamis (19/8/2021).

Baca Juga :  Bupati Pinrang Bersama Dirut Perusda PD Karya Lepas Pengiriman Perdana Produk Pertanian Ke Kalimantan Timur

Dituturkan dia, pada periode Maret – Agustus lalu merupakan periode tersulit dalam perjalannya sebagai perajin. Karena saat itu, angka penderita Covid-19 di Indonesia sedang mengalami kenaikan dan terjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota.

“Akibat pademi pada bulan-bulan itu, kita kehilangan pendapatan, karena sama sekali di saat itu, lanjut Sutanto, dirinya tidak memikirkan hilangnya omset. Tetapi lebih memikirkan bagaimana nasib para pegawainya yang berjumlah 8 orang agar tidak sampai kehilangan pekerjaan.

Beruntung saat itu masih ada pesanan meski dalam jumlah sangat terbatas, “jelasnya.

Paling pesanan hanya 40 persen saja, itupun menyelesaikan sisa pesanan sebelum juga saat pandemi,” jelasnya.

Dilema lain, ketika ada pesanan dalam jumlah cukup lumayan, namun disisi lain ekspedisi pengiriman barang banyak yang tidak beroperasi. Jika pun ada, maka harganya cukup tinggi.

Baca Juga :  Kanwil Jawa Timur Pindahkan 34 WBP Risiko Tinggi Ke Nusa Kambangan

Sutanto menambahkan,Sekalipun metode penjualan lewat kanal daring telah diadopsi, Sutanto mengatakan pelaku usaha tetap akan kesulitan mempertahankan bisnis dalam jangka panjang.

“Bagaimanapun penjualan lewat metode take away dan online tidak bisa menggantikan dine-in. Selain itu tidak semua jenis produk bisa dipasarkan secara daring,” tambahnya.

Demi mencegah tekanan ekonomi yang makin buruk, Sutanto menyarankan agar pemerintah mengambil langkah tegas dalam implementasi kebijakan. Dia menyebutkan pembatasan yang berlaku acap kali hanya sebatas pengumuman tanpa diiringi dengan penegakan aturan di lapangan.

Dampak ini juga tak bisa dihindari oleh bisnis restoran dan rumah makan berskala UMKM. Laporan Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa sekitar 60 persen UMKM bergerak di bidang pangan. (Agus)

(Visited 16 times, 1 visits today)

Share :

Baca Juga

Ekobis

UMKM Harus Memiliki Produk Berdaya Saing

Ekobis

PTPN Xll Kebun Kotta Blater Raih Peringkat III hal Produksi

Ekobis

Menkeu: Kemampuan Adopsi Teknologi Digital Tentukan Perkembangan Ekonomi Negara

Ekobis

Modal Dasar LKMS Mahirah Muamalah Naik dari Rp 5 M menjadi Rp 25 M

Ekobis

Produsen Mobil Listrik Dan Hybrid RI ” Siap Produksi, Berikut Daftarnya

Ekobis

Bupati Probolinggo Tantriana Teken Perjanjian Kontrak, Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional

Ekobis

Iwan Panca Pengurus PWRI Sulsel Deklarasikan Bank Infak Sekaligus  Didaulat Sebagai Dewan Pembina

Ekobis

Bupati Pinrang Bersama Dirut Perusda PD Karya Lepas Pengiriman Perdana Produk Pertanian Ke Kalimantan Timur