186 views

Home / Artikel

Minggu, 1 Agustus 2021 - 22:03 WIB

Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya Sekolah dan Efektifitas Pemanfaatannya

Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya Sekolah dan Efektifitas Pemanfaatannya

Penulis : OLDEN, S.Pd

Pengelolaan Sumber daya di sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi para calon guru penggerak. Dimana sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru/pendidik harus mampu mengenali ekosistem sekolah baik biotik maupun abiotik, dan memetakannya ke dalam sumber daya/aset yang dimiliki sekolah serta mengukur efektivitas dalam pemanfaatannya.

Diawali dengan mengubah mindset atau cara berpikir dan cara pandang kita tentang sumber daya sekolah itu sendiri, yang dimulai dengan refleksi. Sekolah merupakan sebuah ekosistem pendidikan yang juga terdiri dari unsure biotik (hidup) dan abiotik (benda mati). Unsur biotik (hidup) dalam ekosistem sekolah meliputi; manusia, tumbuhan, dan hewan.

Unsur abiotik (benda mati) meliputi; sarana dan prasarana, keuangan, lahan, dan lain-lain. Semua unsur-unsur tersebut dapat dikategorikan kedalam aset sekolah atau sumber daya sekolah.

Namun unsur-unsur yang sama juga dapat kita temui di luar sekolah khususnya di daerah kita yang juga dapat dikategorikan sebagai aset/sumber daya di luar sekolah. dimana keberadaannya juga memiliki kaitan dan peran penting dalam peningkatan ekosistem dan pengembangan manajemen sekolah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kuantitas dari ekosistem biotic di sekolah khususnya manusia (murid) sangat mempengaruhi besar kecilnya modal keuangan/financial dari sekolah tersebut, yang juga akan berimbas pada minim dan maksimalnya proses kegiatan di sekolah.

Ketika modal keuangan khususnya dana BOS (biaya operasional sekolah) minim untuk membiayai berbagai kegiatan di sekolah, maka ini akan menjadi tatangan tersendiri bagi seorang guru/pendidik sebagai pemimpin pembelajaran. Di sini, kita harus mampu keluar dari pola pikir/mindset sebelumnya, yakni adanya pemikiran bahwa segala sesuatunya yang berkaitan dengan kegitan internal sekolah selalu didukung melalui alokasi anggaran dana BOS.

Karena jika kita belum mampu keluar dari mindset tersebut, maka sekolah dengan jumlah murid yang sedikit khususnya di daerah terpencil akan stagnan dalam pengembangan manajemen sekolah, dan kesulitan dalam melakukan perubahan. Kita hanya akan cenderung mengeluh, dan melihat segala sesuatunya sebagai kekurangan atau kelemahan. Ini yang disebut Defisit Based Thinking atau berpikir berbasis kelemahan/kekurangan.

Baca Juga :  Review Buku, Tafsir Kebahagiaan: Tafsir Al-Quran Menyikapi Kesulitan Hidup

Berharap pada dana sekolah/yayasan hanya akan membuat daya nalar dan kreatifitas kita mati, serta menjadikan kita pribadi yang tidak mandiri dan percaya diri. Bahkan meski kita berada pada institusi pendidikan yang maju dan berkembang sekalipun, pola pikir/mindset ini tidak boleh pakai, selalu ada alternatif yang mampu membuat guru/pendidik itu mampu berpikir kreatif, inovatif, dan mandiri dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ia miliki secara personal (pengetahuan dan pengalaman) sebagai modal dasar atau aset pribadi.

Aset pribadi ini dapat dikolaborasi dengan aset atau potensi lainnya yang ada di luar diri kita di sekolah, sehingga dapat melahirkan ide-de/gagasan baru yang lebih kreatif dalam menyelesaikan persoalan financial. Ini yang disebut berpikir berbasis aset (Asset Based Thinking).

Pemetaan aset/sumber daya sekolah yang dapat dielaborasi dan dikolaborasi, meliputi; modal manusia (SDM), modal sosial (jejarng/network), modal fisik (sarpras), modal alam (lingkungan sekolah yang asri), modal financial (dana BOS, DAK, sumbangan, sponsorship, kewirausahaan), modal politik (Tata tertib sekolah, surat edaran, sosialisasi system demokrasi, sarana dan prasarana luar yang mendukung), serta modal agama dan budaya (internalisasi budaya lokal, perayaan hari besar keagamaan, dan sikap toleransi)

Selain aset atau sumber daya sekolah, terdapat pula sumber daya di luar sekolah yang dapat dimanfaatkan secara efektif guna menunjang pengembangan dan peningkatan kualitas manajemen sekolah.

Dimana aset tersebut merupakan aset potensal yang terdapat di daerah, seperti pemanfaataan fasilitas umum, sarana olahraga, insfrastruktur jalan , air, listrik, instansi pemerintah yang dapat dijadikan relasi (kepolisian, BNN, UMKM, puskesmas, RS, dll), perusahaan provider, bank, tokoh-tokoh masyarakat (tokoh agama dan pemuda), hasil perkebunan dan pertanian, serta kesenian daerah. Pemetaan potensi daerah ke dalam aset atau modal di luar sekolah dilakukan sebagai upaya untuk menutupi kekurangan atau hambatan dari dalam sekolah.

Baca Juga :  Saudi dan Delusi Dominasinya (Bagian 1)

Berdasarkan pemetaan sumber daya/aset sekolah di atas, maka melalui modul ini kita dituntut untuk bisa memaksimalkan efektivitas pemanfaatannya dengan berpikir berbasis aset (asset based thinking). Sehingga segala sesuatu yang dinilai sebagai kelemahan dapat dipadang sebagai kekuatan, dengan melihat dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Pemanfaatan sumber daya atau aset yang dimiliki sekolah bagi seorang guru/pendidik khusus calon guru pengerak, merupakan strategi yang harus dilakukan guna menunjang proses merdeka belajar di sekolah yakni proses pendidikan yang berdampak pada murid. Seorang calon guru penggerak harus mampu memaksimalkan nilai dan perannya di sekolah yakni, kreatif, inovatif, mandiri, selalu berkolaborasi, dan membuat program-program yang berdampak pada murid. Seperti penerapan budaya positif di sekolah, dimana budaya positif ini akan sangat membantu calon guru penggerak dalam menciptakan suasana atau lingkungan kerja dan belajar yang kondusif, efektif, dan efisien dikarenakan semua warga sekolah mampu berpikir secara terbuka, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan/ kekeluargaan.

Pengelolaan sumber daya sekolah yang tepat akan sangat membantu proses pembelajaran lebih berkualitas. salah satu yang paling utama yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia (guru dan murid). Untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut, maka guru-guru harus dibekali dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman melalui forum berbagi dan kegiatan kolaboratif guna mentransfer pengetahuan dan pengalaman praktik-praktiik baik. Sementara itu peningkatan kualitas murid dapat dilakukan melalui pengembangan perangkat pembelajaran di kelas, dengan meerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial-emosional agar murid dapat tumbuh sebagai pribadi yang lengkap/sempurna. Pengelolaan aset/modal alam dan fisik di seolah secara maksimal juga akan sangat menunjang terwujudnya merdeka belajar yakni belajar yang berpihak pada murid.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Share :

Baca Juga

Artikel

PT Garuda Indonesia Tbk ( Persero) Durhaka Terhadap Rakyat Aceh

Artikel

“Selamat Hari Radio Republik Indonesia” 11 September 2021, Mengenang Jasa Joesoef Ronodipoero Dalam Menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan

Artikel

Polemik PT Vale Indonesia di Sulawesi Selatan

Artikel

Jeritan Pedagang PKL Ditengah Pandemi, Bagaimana Pemimpin Menyikapi ??

Artikel

Terkait Landasan Hukum Razia Kendaraan oleh Kepolisian, Bagaimana Hukum Memandang Peristiwa ini?

Artikel

Konsep Mitigasi RS Terhadap Keselamatan Pasien Dimasa Pandemi Covid-19

Artikel

Hidayah Muhallim : Arogansi Dan Kearifan Kontekstual

Artikel

Penyuluhan Hukum : Kekerasan Dalam Rumah Tangga