102 views

Home / Hukrim

Kamis, 5 Agustus 2021 - 21:45 WIB

Pembangunan Rumah Layak Huni Kelurahan Temu Kab. Sumba Timur Diduga Dikorupsi, Warga Miskin Minta Keadilan

SUMBA TIMUR NTT, Tribunpost.com — Pembangunan rumah layakhuni bagi warga miskin Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang anggaran 2020 di duga bermasalah. Pasalnya hingga saat ini masih ada warga penerima manfaat yang bangunan rumahnya belum tuntas dikerjakan. Persoalannya bahan/material bangunan rumah yang diturunkan pihak Kelurahan Temu disetiap KK penerima manfaat tidak tuntas.

Potret Samuel Bora Umbu bersama rumahnya yang belum tuntas dibangun.

Sesuai mekanisme yang berlaku, bahwa setiap  Kepala Keluarga Miskin (KKM) penerima bantuan rumah layakhuni, masing-masing memperoleh bahan bangunan sebesar (Rp.17.500.000,00). Namun fakta yang terjadi di lapangan warga penerima manfaat tidak utuh menerima bahan bangunannya dari pemerintah Kelurahan Temu.

Bahan bangunan yang dibelanjakan pihak Kelurahan Temu tidak tuntas dan jika ditotalkan dari 17 Juta 500 ribu Dana bangunan yang diplotkan bagi warga miskin, hanya (Rp.11.775.000,00) yang digunakan pihak Kelurahan untuk belanja bahan bangunan. Dikemanakan sisa Dananya?

Hitungan ini dikalkulasikan dari harga jenis bahan bangunan yang diterima warga. Jika ke 10 KK Miskin dimaksud masing-masing dibelanjakan bahan bangunan senilai (Rp.11.775.000,00), maka total Dana yang digunakan pihak Kelurahan Temu untuk belanja bahan bangunan rumah bagi ke 10 KKMiskin, hanya sebesar (Rp.117.750.000,00). Berarti ke 10 KK Miskin penerima rumah layakhuni dimaksud masing-masing masih tersisa Dananya di pihak Kelurahan Temu sebesar (Rp.5.725.000,00). Dari total Dana pembangunan rumahlayakhuni yang seharusnya (Rp.17.500.000,00).

Maka diduga total Dana pembangunan rumah layakhuni milik ke 10 KK Miskin yang mengendap Pemerintah Kelurahan Temu sebesar(Rp.57.250.000,00).

Potret Babu Dadi Nggay bersama istrinya dengan pondasi bangunan yang tersisa diterjang badai Seroja.

Menurut masyarakat Kelurahan Temu dan warga penerinama rumah layakhuni, bahwa tahun anggaran 2020 ada 10 KKM yang dapat jatah rumah layakhuni. Sesuai aturan yang berlaku dari Pemerintah,¬† ke 10 KK Miskin masing-masing menerima Dana bangunan rumah(Rp.17.500.000,00), untuk ukuran 7×5. Bukan berupa mata Uang yang diterima warga, melainkan bahan bangunan yang diadakan pihak pemerintah Kelurahan Temu.

Masih menurut masyarakat yang menjadi persoalan saat ini, bukan karena Dana bantuan tersebut dikelola pihak Kelurahan Temu. Tetapi cara pengelolaannya yang tidak jujur yang dimana dalam pembelanjaan bahan bangunan rumah hannya sebagian saja yang digunakan dari total Dana (Rp.17.500.000,00). Faktanya saat ini ada warga yang bangunan rumahnya masih terbengkalai, seperti yang di alami (Samuel Bora Umbu warga RT 28/RW 06. dan Babu Dadi Nggay warga RT14/RW10) Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang.

Seperti tanggapan Bora Umbu kepada awak media Tribunpost.com pekan lalu, dari Ke 10 KK Miskin penerima rumah layakhuni dirinya adalah satu yang tergolong dapat jatah bantuan tersebut.

“Saya sebagai rakyat miskin sangat kecewa dengan pelayanan pemerintah Kelurahan Temu yang tidak merakyat. Bahan bangunan yang diberikan kepada saya terbatas sekali dan tidak cukup untuk satu buah rumah. Fisik bangunan baru sebatas dindiing, Kap, dan rangka rumah belum ada, koseng pintu, jendela, lantai dan Wc belum ada. Terjadinya hal ini karena bahan bangunan yang diberikan tidak cukup dan tida sesuai RAB dan JUKNIS”. Tutur Samuel.

Samuel juga menjelaskan bahwa ada 7 jenis bahan bangunan rumah yang diterimanya. Adapun bahan-bahan dimaksud:

  1. 25 Sak Semen, dikali per Satu Sak Semen harganya (Rp.65.000,00). Totalnya = (Rp.1.625.000,00).
  2. Pasir Satu Ret dikali (Rp.500.000,00) per Satu Ret. Totalnya = (Rp.500.000,00).
  3. Besi Sepuluh, 10 Lonjor dikali (Rp.90.000,00) per Satu Lonjor. Totalnya= (Rp.900.000,00).
  4. Besi Delapan, 10 Lonjor dikali (Rp.85.000.00) per Satu Lonjor. Totalnya = (Rp.850.000,00).
  5. Seng Satu Pak dikali Satu Pak = (Rp.2.700.000,00). Totalnya =(Rp.2.700,000,00).
  6. Batako 1000 Buah dikali (Rp.3.500,00) per Satu Buah Batako. Totalnya =(Rp.3.500.000.00).
  7. Kayu Usuk 17 Batang dikali dikali (Rp.100.000,00) per Satu Batang Usuk. Totalnya =(Rp.1.700.000.00).
Baca Juga :  DPO Kasus Curas diTangkap Jatanras Polres Situbondo

Jadi total anggaran bahan bangunan rumah yang dibelanjakan pihak Kelurahan Temu dengan rincian bahan bangunan yang diterima Samuel Bora Umbu hanya (Rp.11.775.000,00) dari keseluruhan Dana bantuan rumah layakhuni yang seharusnya (Rp.17.500.000,00) untuk Samuel Bora Umbu.

Sedangkan Dana bahan bangunan milik Samuel yang masih tersisa di tangan Kelurahan Temu (Rp.5.725.000,00). Hingga saat ini kondisi bangunanya masih terbengkalai Kisah yang sama juga dialami Babu Dadi Nggay warga RT14/RW10. Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang.

Babu menjelaskan bahwa Ia juga adalah salah satu KKMiskin penerima bantuan rumah layakhuni dari ke 10 KKMiskin tahun anggaran 2020.

“Sebagai rakyat jelata saya sangat kecewa dan sedih, melihat pelayanan Lurah Temu yang tidak berpihak pada warga miskin. Mengapa saya katakan begini, karena saya kecewa, terkait bahan bangunan yang diberikan Lurah tidak tuntas dan tidak sesuai RAB dan JUKNIS. Batako yang diberikan kepada saya, tidak berkualitas mudah hancur. Semua bahan yang diberikan tidak sesuai standar aturan pemerintah. Saya minta Bapak Bupati Sumba Timur dan DPRD tolong bantu kami rakyat miskin. Sampai saat ini kami tidur digubug karena tidak punya rumah”. Ungkap Babu dengan mata berkaca menahan kesal.

Babu juga menyampaikan bahwa ada 7 jenis bahan bangunan yang diterimanya dari pihak Kelurahan Temu. 1. Semen 20 Sak, dikali Rp.65.000,00 per Satu Sak Semen. Totalnya = Rp.1.300.000,002. Batako 1000 Buah, dikali Rp.3.500,00 per Satu Buah Batako. Totalnya= Rp.3.500.000,003. Seng Satu Pak, dikali per Satu Pak Rp.2.700.000,00 totalnya = Rp.2.700.000,004. Pasir Satu Ret, dikali per Satu Ret Rp. 500.000,00 totalnya =Rp.500.000.005. Kayu Usuk 17 Batang, dikali Rp. 100.000,00 per Satu Batang totalnya =Rp.1.700.000,006. Besi Sepuluh, 10 Lonjor dikali Rp.90.000,00 per Satu Lonjor totalnya=Rp.900.000,007. Besi 12, 5 Lonjor dikali Rp.125.000,00 per Satu Lonjor totalnya=Rp.625.000,00Jadi total dana yang digunakan pihak Kelurahan untuk belanja bahan bangunan milik Babu dari 7 jenis bahan bangunan yang diterima oleh Babu Dadi Nggay hanya sebesar (Rp.11.225.000,00).

Masih tersisa dana milik Babu (Rp.6.275.000,00) ditangan Kelurahan Temu. Dari total dana Rp.17.500.000,00 yang seharus utuh dibelanjakan bahan bangunan untuk Babu.

Sudah jatuh ketimpa tangga inilah yang dialami Babu Dadi Nggay, pasalnya bangunan rumahnya yg baru berdiri 40% karena badai Seroja pada bulan April 2021, bangunannya ambruk rata dengan tanah tidak ada yang tersisa. Sedihnya baru saja dapa bantuan rumah dan belum tuntas dikerjakan, kini badai Seroja meluluhlantakan harapannya.

Menurut Babu bahwa Ia bersama keluarganya sudah melaporkan kondisi bangunannya yang ambruk diterjang Seroja kepada Lurah Temu. Dalam laporan tersebut terlampir juga foto kondisi bangunan rumahnya yang ambruk.

Namun laporan yang di sampaikan Babu Dadi Nggay, tidak di akui oleh Lurah Temu kalau bangunan milik Babu hancur karena Badai seroja.

Baca Juga :  Jika ada keterlibatan Pihak Lain, SUNDAWANI minta Tersangka Kasus Korupsi Damparit Dinas Pertanian Karawang Agar Tak Ragu Mengungkapkan

“Laporan saya dan adik saya Jefri, tidak diakui dan tidak diterima Lurah Temu. Bahkan Lurah mengatakan bahwa bangunan tersebut sengaja dihancurkan. Dan tidak akan di data sebagai korban bencanana. Sebagai rakyat jelata, mana mungkin saya kasih hancur lagi bangunan yang sudah saya dirikan dengan cucuran keringat. Bahkan banyak saksi yang melihat ketika bangunan rumah saya ambruk dari Seroja”.” Pada pendataan rumah penduduk oleh pemerintah, nama saya dan bangunan saya yang rubuh tidak di foto dan didata oleh Lurah Temu. Sementara warga lain di data dan di foto kondisi bangunannya yang rusak”. Ungkap Babu.

Tanggapan Tokoh masyarakat Kelurahan Temu yang enggan namanya dikorankan, berpendapat bahwa 10 KKMiskin penerima bantuan rumah layakhuni tahun anggaran 2020, membenarkan bahwa ke 10 KKMiskin masing-masing menerima bahan bangunannya. Persoalannya bahan bangunan yang diterima warga dari pihak Kelurahan Temu, hanya sebagian saja dan tidak tuntas.

Jika dihitung harga jenis bahan bangunan yang diterima warga, maka dapat di simpulkan keuangan yang digunakan untuk pembelanjaan oleh pihak kelurahan, kurang lebih hanya berkisar 11 Juta keatas. Dan hal ini berlaku kepada 10 KKMiskin penerima bantuan rumah layakhuni.

Dari total dana (Rp.175.000.000,00) untuk pembangunan rumah layakhuni bagi 10 KKMiskin. Masing-masing KKMiskin seharusnya mendapat Dana bantuan (Rp.17.500.000,00). Namun fakta lapangan ke 10 KKMiskin dimaksud, hanya menerima sebagian bahan bangunan saja.

Yang jika dikalkulasikan dengan nilai keuangan, kurang lebih hanya 11 Juta keatas saja yang digunakan untuk belanja bahan bangunan. Yang menjadi pertanyaan, dimanakah sisa Dana kurang lebih (Rp.57.250.000,00) dari total dana rumah layakhuni (Rp.175.000.000,00) yang merupakan hak dari ke 10 Kepala Keluarga Miskin (KKM).

Perlu adanya pemeriksaan dari penegak hukum, terkait pembangunan rumah layakhuni untuk 10 KKM di kelurahan temu. Karena di duga ada indikasi korupsi.

Total pagu dana untuk pembangunan rumah layakhuni bagi 10 KKMiskin kelurahan temu, tahun anggaran 2020 sebesar (Rp.175.000.000,00).

Sesuai aturan pemerintah ke 10 KKMiskin dimaksud seharusnya masing – masing menerima bahan bangunan senilai (Rp.17.500.000,00). Tetapi fakta lapangan warga penerima manfaat hanya menerima bahan bangunan kurang lebih senilai (Rp.11.775.000,00) dan itu bervariasi.

Jadi jika dijumlahkan dana yang digunakan untuk pembelanjaan bahan bangunan rumah layakhuni untuk KKMiskin ini, dikali (Rp.11.775.000,00) untuk ke 10 KKMiskin, maka total dana yang digunakan hanya sebesar (Rp.117.750.000,00) oleh pihak Kelurahan Temu. Lantas dimanakan kesisahan Dana (Rp.57.250.000,00) dari total pagu dana rumah layakhuni (Rp.175.000.000,00).

Perlu adanya perhatian Bupati/Wakil Bupati Sumba Timur, DPRD bersama pihak Kejaksaan dan Unit Tipikor Polres. Kerena dana yang dikucurkan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten di wilayah kelurahan Temu, untuk mensejahterakan rakyat. Bukan untuk disalahgunakan atau untuk kepentingan oknum birokrasi kelurahan Temu yang mengelolah dana perumahan rakyat dimaksud. Untuk diketahui Pemda Sumba Timur bahwa dampak dari pola pelayanan yang tidak pro rakyat oleh pihak kelurahan Temu, faktanya dua warga miskin yakni Samuel Bora Umbu dan Babu Dadi Nggai tidak berhasil membangun rumah layakhuninya. Penyebabnya karena bahan bangunan yang tidak tuntas diberikan pihak kelurahan Temu.

(Yermi)

(Visited 25 times, 1 visits today)

Share :

Baca Juga

Hukrim

Marak Kehilangan Sepeda Motor di Karawang, Biarpun Di Halaman Rumah Warga

Hukrim

Pengeroyokan Kepada Wartawan Saat Bertugas Untuk Memperjuangkan Kepentingan Masyarakat

Hukrim

Adik Tewas Dibacok Parang Oleh Abang Kandung Di Parbuluan Kabupaten Dairi

Hukrim

Penyaluran BBM Jenis Solar Ke PomBumdes Lewat Kontrak Kerjasama, Diduga Minyak Oplosan

Hukrim

Napi Kendalikan Peredaran Sabu, Dari Dalam Lapas Jember

Hukrim

Asep Agustian SH MH Ketua DPC PERADI Karawang : Mengecam Keras Dugaan Penyerangan Yang Dilakukan Oknum Pengacara

Breaking News

8 Unit Sepeda Motor Modifikasi di Amankan Satlantas Polres Merangin

Hukrim

Kapolda Aceh Perintahkan Anggotanya Tindak Tegas Bandar Narkoba