Home / Artikel

Sabtu, 11 September 2021 - 14:08 WIB

“Selamat Hari Radio Republik Indonesia” 11 September 2021, Mengenang Jasa Joesoef Ronodipoero Dalam Menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan

SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA

SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA " foto : Joesoef Romodipoero

“Selamat Hari Radio Republik Indonesia” 11 September 2021, Mengenang Jasa Joesoef Ronodipoero Dalam Menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan

(Pewarta : Oky Yudi Firmansyah – Okik)

Moehammad Joesoef Ronodipoero mempunyai jasa yang begitu besar sebab ia telah menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia.

Kebayang tidak? Jika Ronodipuro saat itu tidak mengumandangkan kemerdekaan Indonesia ke penjuru dunia? Mungkin saja Indonesia akan kembali dijajah negara lain.

SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA ” foto : Joesoef Romodipoero

Pria yang lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada 30 September 1919 telah wafat di Jakarta tepatnya pada 27 Januari 2008, ia wafat diumur 88 tahun. Perjuangannya tidak akan pernah dilupakan, pada awalnya ia dikenal sebagai penyiar kemerdekaan Republik Indonesia secara luas. Selain itu ia pernah menjadi Duta Besar luar biasa Indonesia di Uruguay, Argentina, dan Chili.

Yusuf Ronodipuro dianggap sebagai salah satu tokoh pahlawan Indonesia dikarenakan perannya dalam menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia saat dia bekerja di Radio Hoso Kyoku. Ia juga salah satu pendiri dari Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 11 September 1945, yang berdiri sampai sekarang, dan kemudian hari jadinya menjadi selalu diperingati setiap tanggal 11 September.

Begini cerita singkat Yusuf Ronodipuro ketika mengumandangkan kemerdekaan Indonesia.

Jumat pagi pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Ronodipuro sendiri saat itu tidak mendengar kabar tersebut, karena para staf Hoso Kyoku sejak hari Rabu sebelumnya sudah tidak diizinkan untuk masuk atau keluar stasiun radio tersebut, semuanya ada di dalam. Mendadak seorang bernama Syahrudin mencari Ronodipuro dan memberikan selembar surat pendek dari Adam Malik yang berisi naskah proklamasi.

Baca Juga :  Jokowi Tinjau PPKM Di Rawasari

Ronodipuro tidak mengerti bagaimana Syahrudin bisa masuk gedung stasiun radio yang sekarang ada di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 ini, karena kala itu dijaga ketat oleh Kempetai (polisi militer Jepang). Saat akan menyiarkan berita tersebut, Ronodipuro juga bingung karena semua ruang studio siaran dijaga oleh Kempetai, tetapi dia mengingat bahwa studio siaran mancanegara sudah tidak digunakan.

Namun, ruangan ini tidak tersambung dengan pemancar. Ronodipuro kemudian menanyakan kepada bagian teknis, dan mendapat gagasan untuk mengubah pengaturan kabel stasiun radio, sehingga kabel pemancar siaran dalam negeri tersambung dengan pemancar manca negara, sehingga saat siaran, di studio akan terlihat dan terdengar layaknya siaran biasa.

Setelah semuanya siap, pada pukul 19.00, Yusuf Ronodipuro yang kala itu berusia 26 tahun, membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia lewat siaran mancanegara ke seluruh dunia. Setelah kira-kira 20 menit, dia juga membacakan naskah tersebut dalam Bahasa Inggris, sehingga radio-radio internasional seperti BBC London, Radio Amerika, Singapura dan lainnya bisa mengerti maksud siaran tersebut dan meneruskannya, sehingga seluruh dunia mendengar kabar tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia ini.

Aksi berani Ronodipuro ini kemudian diketahui oleh Tentara Kekaisaran Jepang, karena siaran tersebut akhirnya juga ditangkap oleh radio di negeri Jepang. Seluruh staf Hoso Kyoku yang terlibat dalam aksi ini dikenai hukuman disipliner berupa siksaan fisik oleh tentara Jepang

Setelah peristiwa tersebut, Ronodipuro mendirikan Radio Suara Indonesia Merdeka (The Voice of Free Indonesia) dari barang-barang elektronik bekas. Tanggal 25 Agustus Soekarno dimohon untuk menyampaikan pidatonya di radio tersebut. Ini adalah pidato pertama Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Mohammad Hatta sendiri menyampaikan pidato pertamanya tanggal 29 Agustus

Baca Juga :  Jaga Diri dan Keluarga Kita Dari Api Neraka

Saat itu di radio milik Tentara Jepang di daerah-daerah selain Jakarta masih banyak yang melanjutkan siaran, karena tidak dijaga seketat Jakarta. Hal ini disebabkan karena Kempetai sudah tidak dominan lagi pasca Penyerahan Jepang. Ronodipuro meminta kepada Abdulrahman Saleh supaya radio-radio di daerah tadi sebaiknya mengadakan adanya kelanjutan siaran, untuk menyebarkan semangat perjuangan. Gagasan ini diterima, dan tanggal 10 September 1945, pimpinan-pimpinan radio daerah, dari Surakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang dan lain-lain berkumpul untuk membicarakan hal ini.

Saat itu, semuanya menyetujui untuk meminta pemerintah Jepang untuk memberikan stasiun radio mereka kepada Republik Indonesia. Tetapi pihak Jepang menolak permintaan ini, karena menurut perjanjian Penyerahan Jepang, Indonesia harus diserahkan kembali kepada Tentara Sekutu.

Tanggal 11 September rapat kembali diadakan, menyetujui didirikannya Radio Republik Indonesia (RRI) dan supaya sekali lagi meminta pemerintah Jepang untuk memberikan stasiun-stasiun radio di daerah. Karena tetap ditolak, akhirnya terjadi perebutan secara paksa terhadap stasiun-stasiun radio daerah tersebut. Namun hal ini tidak mendapat perlawanan banyak karena moral Tentara Kekaisaran Jepang yang sudah jatuh pasca Penyerahan Jepang kepada Tentara Sekutu. Ronodipuro akhirnya menjadi Kepala RRI.

Tentara Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II kemudian tiba di Indonesia. Saat itu setelah Rapat Akbar Ikada, kaum pemuda merebut kantor-kantor Jepang untuk menjadi milik Republik Indonesia, termasuk Hoso Kyoku. Saat Tentara Kerajaan Belanda menumpang Tentara Sekutu untuk mengambil alih Indonesia, yaitu Agresi Militer Belanda I tahun 1946, RRI direbut oleh Tentara Kerajaan Belanda, dan Yusuf Ronodipuro kemudian ditangkap dan dipenjara tanggal 21 Juli 1947. (Sumber: KBRN)

Share :

Baca Juga

Artikel

Komisioner KPK Saat ini di Masih yang Terbaik dalam Melakukan Pemberantasan Korupsi

Artikel

Ini Mitos ” Dan Larangan yang Tidak Dilakukan di Malam “Satu ‘Suro.

Artikel

Tuhan Seakan-akan Hendak Berbicara Kepada Kesombongan Manusia

Artikel

Asal Nama “Surabaya”, Ternyata bukan Hiu dan Buaya

Artikel

Suku Dayak Hindu Buddha Segandu Indramayu (Indramayu – Jaea Barat)

Artikel

Jaga Diri dan Keluarga Kita Dari Api Neraka

Artikel

Jaranan Dan Representasi Abangan

Artikel

Sekilas Tentang : Persatuan Wartawan Republik Indonesia